Ini Depok

Madrasah Ramadhan: Membunuh Keinginan Jalan Tunggal Meraih Petunjuk Allah

Redaksi
2 menit baca
Madrasah Ramadhan: Membunuh Keinginan Jalan Tunggal Meraih Petunjuk Allah

Oleh: Rachmat Efendi

(Sekprodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Depok)

Ramadhan adalah momentum "detoksifikasi" ruhani yang paling dahsyat. Namun, detoks ini bukan sekadar membersihkan organ pencernaan dari sisa makanan, melainkan membersihkan jiwa dari racun yang paling mematikan: Keinginan (Nafsu).

Di dalam kampus kehidupan, seringkali kita gagal membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Padahal, keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada kemampuannya memilah kedua hal ini.

1. Keinginan: Racun dan Penghalang Petunjuk

Dalam kitabnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani memberikan pesan yang sangat tajam: "Bunuhlah keinginanmu (hawa nafsu), maka engkau akan hidup bersama Allah."

Mengapa keinginan disebut racun? Karena keinginan bersifat tidak terbatas dan seringkali bersumber dari ego (ananiyah). Ketika seseorang dikendalikan oleh keinginan—baik itu keinginan akan jabatan, pujian, maupun kemewahan duniawi—maka hatinya akan menjadi gelap. Kegelapan inilah yang membuat petunjuk Allah (Al-Qur'an) sulit meresap.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri." (HR. Al-Bazzar).

2. Kebutuhan vs Keinginan: Standar Kedekatan kepada Allah

Untuk mendekat kepada Allah, kita harus bergerak di atas rel kebutuhan.

- Kebutuhan adalah apa yang Allah tetapkan untuk menjaga ketaatan kita (makan secukupnya agar kuat ibadah, pakaian untuk menutup aurat, ilmu untuk mengenal-Nya).

- Keinginan adalah tambahan yang dipaksakan oleh nafsu yang seringkali melampaui batas (israf).

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf: 31:

"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Ayat ini adalah garis batas tegas: Ambil apa yang menjadi kebutuhan, buang apa yang hanya menjadi beban keinginan.

3. Puasa sebagai Alat "Membunuh" Keinginan

Ramadhan melatih kita secara praktis. Saat berpuasa, kita butuh air untuk haus kita, tapi kita harus menahan keinginan untuk minum sebelum waktunya. Kita butuh makan, tapi kita dididik untuk tidak menuruti keinginan makan berlebihan saat berbuka.

Jika seseorang mampu mengendalikan keinginannya, maka jiwanya menjadi ringan. Jiwa yang ringan akan lebih mudah "terbang" mendekat kepada Allah. Sebaliknya, jiwa yang sarat dengan tumpukan keinginan akan terpenjara di bumi, jauh dari cahaya petunjuk.

Penutup: Menjadi Hamba yang Merdeka

Sebagai insan pendidik di UID, mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai ajang latihan untuk "menyembelih" keinginan-keinginan rendah kita. Mari kita kembali kepada fitrah: hidup secukupnya dengan kebutuhan yang berkah, bukan hidup dalam perlombaan mengejar keinginan yang menjauhkan kita dari Allah.

Ketika keinginan sudah mati di dalam hati, maka yang tersisa hanyalah kehendak Allah. Itulah puncak keselamatan dunia dan akhirat.

Bagikan:

Redaksi

Penulis di Ini Depok. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.

Berita Terkait

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!