Rahasia Terbesar di Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 183; Korelasi Antara Iman dengan Taqwa

Oleh: Dr. Ari Pratama Putra, M.Pd - (Kepala LPPM Universitas Islam Depok)
Iman diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang artinya kepercayaan adalah “Tashdiqun Bil Qolbi Taqrirun Bil Lisani ‘Amalun Bil Arkani” membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dalam bentuk perbuatan, yang ada kaitannya dengan Hadits Nabi “Al-Imanu Yazidu Wayanqushu” yang artinya keimanan itu bisa bertambah dan bisa berkurang.
Di dalam al-Quran Surah Al-Baqoroh ayat 183 ada rahasia terbesar di dalam puasa yaitu korelasi antara Iman dengan orang yang bertaqwa (Tattaqun) adalah jaminan Allah faham al-Qur’an dan segala dosa-dosanya, kesalahanya, kekurangannya, mendapatkan ampunan Allah bagi orang yang beriman naik menjadi bertaqwa. Oleh karena itu orang yang bisa bertaqwa bukan hanya orang yang mempunyai keimanan saja, melainkan orang yang mempunyai iman yang didefinisikan “Nurun Fil Qolbi” yaitu cahaya dalam hati. Orang yang ada imannya berbeda dengan orang yang ada keimanannya, iman itu “nurun fil qolbi” artinya cahaya dalam hati, sedangkan keimanan itu “tashdiqun bil qolbi” artinya membenarkan dalam hati.
Apakah manusia bisa mengetahui atau bisa mengukur dirinya ada imannya atau belum ada imannya? Jawabannya adalah berdasarkan firman Allah Surat Al-Qamar ayat 49 Inna kulla syayin kholaqnahu biqodarin “Allah menjadikan apapun berdasarkan ukuran, dosis dan ketentuan yang tepat” yaiu iman dapat bergabung dalam hati manusia, apabila hati manusia itu bersih yaitu bersih dari penyakit hati seperti marah, dengki, iri, hasud, ria, sombong, kikir dan sejenisnya.
Taqwa adalah tingkat yang paling tinggi dalam kemanusiaan, masuklah ia kedalam nilai Ilahi. Maka orang bertaqwa jaminannya adalah faham al-Qur’an, lebur dosanya, dapat ampunan atau magfiroh Allah. Inilah rahasia terbesar dalam Al-Qur’an yaitu Iman hubungannya (korelasinya) dengan taqwa yang iman diartikan “nurun fil qolbi”
Iman apabila diartikan Nurun Fil Qolbi, dia kaitan erat dengan taqwa, dari hati yang bersih, dari nilai spiritual yang tinggi, kemudian di pertahankan sampai dalam kehidupannya iman itu ada didalam hatinya, maka dia bisa meningkatkan dirinya kehadirat Allah, dengan meningkatkan kualitas imannya menjadi taqwa. Orang yang ada imannya dalam hatinya bisa naik menjadi orang yang muttaqin, namanya mu’min naik kepada muttaqin.
Oleh karena itu puasa diperintahkan oleh agama seperti yang terjadi oleh umat terdahulu sampai sekarang itu bagi orang-orang yang mempunyai keimanan dan iman, bukan hanya yang mempunyai keimanan saja, kalau manusia puasa hanya ada keimanannya, maka dia tidak akan sanggup naik ke tingkat muttaqin.
Dengan demikian, Kaitannya iman itu bisa ditinjau dari dua sudut pandang yaitu kepercayaan dan bentuk nurun fil qolbi, ketika yang dipanggil berpuasa seperti petunjuk al-Qur’an adalah keimanan dan iman yang nurun fil qolbi, dia meningkatkan dirinya kedalam taqwa, bukan hanya sebatas puasa menahan makan dan minum, akan tetapi ditambah puasanya yaitu mencegah seluruh dorongan-dorongan yang akan melakukan dorongan tindakan kepada kemaksiatan dan kejahatan.
Redaksi
Penulis di Ini Depok. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
