Transformasi Spiritual: Menelusuri Tiga Tingkatan Puasa dalam Perspektif Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Oleh: Rachmat Efendi, S.Si., M.M
(Sekprodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Depok)
Puasa bukan sekadar ritme pergeseran jam makan, melainkan sebuah perjalanan vertikal menuju Sang Khalik. Dalam menunaikan kewajiban yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 183, seringkali kita terjebak pada pengguguran kewajiban formalitas semata. Namun, jika kita menyelami pemikiran sang Sultanul Awliya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, puasa memiliki kedalaman yang berlapis.
Beliau membagi kualitas puasa seseorang ke dalam tiga tingkatan transformatif yang menjadi cermin bagi kita semua.
1. Puasa Syariat (Shoum al-`Umum)
Ini adalah tingkatan dasar yang dijalani oleh mayoritas umat Muslim. Fokus utamanya adalah menjaga aspek eksoterik atau lahiriah, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Meskipun sah secara hukum fikih, tingkat ini merupakan tingkatan yang paling "berisiko" jika tidak disertai esensi batin. Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam haditsnya:
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah).
2. Puasa Tarekat (Shoum al-Khusus)
Naik satu tingkat lebih tinggi, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menekankan pentingnya menjaga panca indera dan anggota tubuh dari perbuatan dosa. Di sini, yang berpuasa bukan hanya perut, melainkan:
Mata dari memandang yang tidak halal.
Lidah dari ghibah, dusta, dan adu domba.
Telinga dari mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Inilah puasa yang bertujuan membentuk karakter (akhlaqul karimah). Tanpa pengendalian anggota tubuh, puasa hanyalah perpindahan waktu makan yang hampa makna.
3. Puasa Hakikat (Shoum Khususil Khusus)
Inilah puncak tertinggi dalam pencapaian seorang hamba. Puasa ini tidak lagi hanya berbicara tentang perut atau anggota badan, melainkan puasanya hati (shoum al-qalb).
Pada tingkatan ini, hati seseorang "berpuasa" dari segala sesuatu selain Allah SWT. Hati terjaga dari ambisi duniawi yang berlebihan, penyakit hati seperti sombong dan riya, serta keraguan kepada takdir-Nya. Puasanya batal apabila di dalam hatinya terbersit keinginan selain mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam sebuah Hadits Qudsi:
"Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya." Janji ini merujuk pada mereka yang mampu menyatukan kehadiran hati dengan totalitas penghambaan.
Penutup: Refleksi untuk Civitas Akademika
Sebagai insan akademis di lingkungan Fakultas Tarbiyah UID, memahami tingkatan ini adalah kunci untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual. Puasa adalah madrasah ruhani yang melatih kita untuk naik kelas dari sekadar menahan lapar menuju kejernihan hati.
Sudah di tingkatan manakah puasa kita tahun ini? Semoga kita tidak hanya berhenti sebagai ahli syariat, tapi perlahan mendaki menuju hakikat.***
Redaksi
Penulis di Ini Depok. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
