Ini Depok

Al-Qur'an: Bukan Sekadar Tekstual, Melainkan Pedoman Kontekstual

Redaksi
2 menit baca
Al-Qur'an: Bukan Sekadar Tekstual, Melainkan Pedoman Kontekstual
Rachmat Efendi (Sekprodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Depok)

Oleh: Rachmat Efendi

(Sekprodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Depok)

Seringkali kita melihat Al-Qur'an diperlakukan sebatas ritual: dibaca dengan tartil yang indah, dihafal ribuan barisnya, atau dipajang dengan kaligrafi yang menawan. Tentu, itu semua bernilai pahala. Namun, jika interaksi kita dengan Al-Qur'an berhenti di tenggorokan tanpa turun ke hati dan mewujud dalam aksi, maka kita telah melewatkan misi utama diturunkannya Kalamullah.

1. Lebih dari Sekadar Tulisan dan Hafalan

Al-Qur'an menyebut dirinya sebagai Al-Huda (Petunjuk). Dalam logika sederhana, sebuah peta tidak akan mengantarkan seseorang ke tujuan jika hanya dipandangi atau dihapal koordinatnya tanpa melangkahkan kaki mengikuti rute tersebut.

Allah SWT berfirman:

_"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka menghayati (tadabbur) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shad: 29)_

Menghayati berarti melampaui teks. Menghafal Al-Qur'an adalah kemuliaan, namun mengamalkan satu ayat jauh lebih menyelamatkan daripada menghafal seluruh isi kitab tanpa kepatuhan.

2. Bukan Dongeng Masa Lalu, Tapi Solusi Masa Kini

Al-Qur'an memang mengandung kisah-kisah kaum terdahulu, mulai dari Nabi Adam hingga peradaban yang runtuh. Namun, Al-Qur'an bukanlah buku sejarah atau dongeng pengantar tidur. Setiap kisah di dalamnya adalah *prototipe perilaku manusia.

Jika Al-Qur'an menceritakan tentang Firaun, itu adalah peringatan tentang bahaya kesombongan kekuasaan yang bisa terjadi di zaman sekarang. Jika bercerita tentang Nabi Yusuf, itu adalah pedoman integritas di tengah godaan. Isinya adalah pedoman konkret untuk:

- Interaksi Sosial: Bagaimana beradab kepada sesama.

- Ekonomi: Bagaimana mencari rezeki yang berkah (anti-riba).

- Kepemimpinan: Bagaimana mengelola amanah dengan adil.

3. Al-Qur'an sebagai Penyelamat: Syarat dan Ketentuan

Al-Qur'an baru benar-benar menjadi "penyelamat" (shafa'at) bagi umat manusia apabila memenuhi siklus: Baca -> Pahami -> Amalkan.

Keselamatan dunia dan akhirat tidak datang otomatis hanya dengan memiliki mushaf di rumah. Ia datang ketika:

- Kejujuran dalam berbisnis dipandu oleh ayat-ayat amanah.

- Kesabaran dalam musibah dipandu oleh ayat-ayat tawakkal.

- Pendidikan anak dipandu oleh hikmah Luqman al-Hakim.

Di Universitas Islam Depok (UID), kita berkomitmen untuk melahirkan sarjana yang tidak hanya "melek" Al-Qur'an secara lisan, tetapi juga secara perilaku. Mari kita ubah paradigma kita: Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca saat ada kematian atau perlombaan, tapi untuk dibuka setiap kali kita menghadapi persoalan hidup.

Tanpa praktek, Al-Qur'an hanyalah lembaran kertas. Dengan pengamalan, ia adalah cahaya yang menuntun kita pulang dengan selamat ke haribaan-Nya.

Bagikan:

Redaksi

Penulis di Ini Depok. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.

Berita Terkait

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!