Foto : Ilustrasi

Margonda, inidepok.com – Sejumlah perwakilan Asosiasi Jasa Konstruksi Kota Depok membantah tudingan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang meyebarkan isu terkait pengaturan pemenang lelang yang di gelar Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Depok.

Tudingan yang mengatakan bahwa pemenang lelang dalam sebuah tender sudah diatur oleh ULP dan kontraktor “berduit” merupakan isu yang terkesan sengaja dihembuskan untuk tujuan tertentu.

“Saya ini kan kontraktor juga. Kalau hal itu dilakukan, tentu saja saya marah. Karena hal itu tidak fair dan akan menguntungkan pihak-pihak tertentu khususnya yang mempunyai modal besar,” ujar Sekretaris Gabungan Perusahaan Konstruksi Indonesia (Gabpeksi) Kota Depok, Novli Siregar, Jumat (28/9/2018).

Dikatakan Novli, tudingan yang dilontarkan oknum pengusaha itu sah-sah saja. Namun demikian, oknum tersebut juga perlu berkaca diri, apakah saat dia mendapatkan pekerjaan sudah benar ? Jadi jangan membuat suasana gaduh dengan mencari-cari kesalahan pihak lain jika dirinya sendiri belum becus menjalankan pekerjaan yang ditanganinya.

“Kalau saya sendiri membantah adanya pengkondisian pemenang lelang di ULP Depok. Sepanjang perusahaan itu sesuai, data persyaratan lelang lengkap dan penawaran yang dilakukan juga kompetitif, saya yakin kok kontraktor bisa menang dengan murni”, bantah Novli.

Dalam menetapkan pemenang tender, lanjut Novli, banyak parameter penilaian yang akan diambil oleh panitia di tiap Kelompok Kerja (Pokja) ULP. Mulai dari kelengkapan administrasi, penawaran rekanan, hingga bobot rekanan.

“Nah sekarang oknum kontraktor yang nyebar isu bagi-bagi proyek dan pengkondisian proyek itu sudah benar atau belum ? Jangan-jangan karena dia gak becus kerja, makanya dinas-dinas di Depok gak ada yang percaya lagi sama dia. Saran saya, oknum tersebut banyak-banyak Istighfar. Jangan banyak suudzon sama orang supaya hidupnya gak penuh dengan kebencian”, sindir Novli.

Terpisah, salah seorang panitia lelang di Pokja ULP Depok menjelaskan, untuk menentukan pemenang lelang ada beberapa tahapan. Dimulai dengan tahapan evaluasi administrasi, yang mana salah satunya menggunakan sistem gugur.

“Artinya, apabila terdapat persyaratan administrasi yang tidak dipenuhi, otomatis peserta lelang akan gugur”, ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.

Lebih jauh sumber menjelaskan, tahap selanjutnya adalah evaluasi teknis yang menggunakan sistem nilai. Dimana unsur-unsur yang dinilai diberikan bobot nilai yang telah ditentukan dan selanjutnya total hasil penilaian tersebut harus memenuhi ambang batas kelulusan minimal.

Apabila tidak mememenuhi ambang batas minimal tidak akan dilanjutkan ke tahap evaluasi berikutnya yaitu evaluasi harga.

“Jadi dalam hal ini, apabila ada peserta lelang yang menawar dengan harga terendah, tidak serta merta langsung dijadikan pemenang dong. Peserta lelang harus lulus tahapan evaluasi administrasi dan teknis terlebih dahulu,” jelas sumber.

Senada dengan itu, Kepala Badan Layanan Pengadaan (BLP) di Pemerintah Kota Depok, Dadan Rustandi juga membantah tudingan yang mengatakan bahwa proses lelang di ULP Depok sarat dengan kongkalingkong dan pengkondisian.

Menurut Dadan, dalam setiap proses lelang yang digelar Unit Layanan Pengadaan Pemerintah Kota Depok, dilakukan secara terbuka dan transparan.

Dalam menentukan pemenang lelang, panitia di Pokja ULP Depok juga tidak bisa sembarangan. Karena saat akan menentukan pemenang, panitia harus berdasarkan bukti dan fakta yang ada.

“Semuanya kan hasil kajian panitia lelang. Pokja yang lebih memahami, lebih mengetahui tiap ketentuan dan kriteria di dalam pelelangan, termasuk menentukan pemenang lelangnya. Jadi sebelum menentukan pemenang, Panitia akan melakukan evaluasi terlebih dahulu dan tidak asal menentukan pemenangnya,” jelas Dadan.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Kontraktor Nasional (DPC Askonas) Kota Depok, Hendrizal Rustam juga membantah adanya bagi-bagi proyek yang dilakukan oleh ULP Depok.

Menurut Rizal (sapaan akrab Hendrizal Rustam), tudingan yang mengatakan bahwa ULP bagi-bagi proyek kepada kontraktor “berduit” merupakan tuduhan yang terkesan tendensius.

“Buktinya, meski saya memiliki cukup modal dan kelengkapan administrasi untuk mengikuti lelang yang digelar ULP, namun tetap saja saya belum beruntung untuk memenangi lelang proyek yang digelar. Hal itu dikarenakan saya kalah di evaluasi akhir. Dan tentu saja saya legowo. Jadi jangan sembarangan tuduh kontraktor berduit akan selalu dapat proyek dari ULP”, pungkas Rizal.

Rizal juga mengaku heran dengan tuduhan dari oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa ULP Depok bagi-bagi proyek kepada asosiasi kontraktor.

“Bagaimana ULP bagi-bagi proyek, sementara mereka sendiri bukan sebagai penyedia pekerjaan. Tugas ULP kan hanya melakukan lelang, bukan untuk bagi-bagi proyek. Lelang yang di gelar juga dilakukan secara terbuka dan transparan. Jadi semua orang bisa melihat proses lelang yang digelar”, tutup Rizal.

 

Laporan : M. Ferry Sinaga

 356 total views,  1 views today